Berita

Mengenal Ikan Cakalang (Skipjack Tuna) yang dihasilkan Nelayan Pantai Selatan DIY

Jumat Wage, 26 Oktober 2018 12:57 WIB 1048

foto
Ikan Tuna (kanan) dan Cakalang (kiri) Kapal Inka Mina 646 (Foto: Kop. Inka Bantul VII Projo Mino)

                Sejatinya, inilah adalah ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sesungguhnya. Ikan dengan Familia Scombroidae dan Genus Katsuwonus ini adalah primadona dari Pantai Selatan Jogjakarta. Ditangkap dengan menggunakan pancing (hand line) ataupun jaring lingkar (purse seine), baik menggunakan kapal perikanan 10 – 29 Gt atau > 30 GT pada kurun waktu tahun 2012 – 2016 terjadi peningkatan hasil tangkapan dengan rata-rata penangkapan per tahunnya sebesar 478,16 ton. Adapun potensi maximum sustainable yield (MSY) ikan cakalang di selatan DIY mencapai 617,93 ton/tahun. Sungguh potensi ikan sangat besar bukan?

                Kenapa tadi kami sebutkan bahwa ikan ini adalah ikan cakalang sesungguhnya? Karena yang terjadi di masyarakat (khususnya di Jogjakarta) adalah ada pergeseran makna dari nama ikan ini. Ikan cakalang yang kita kenal selama ini dan ditata-niagakan oleh masyarakat adalah ikan kokok atau oleh nelayan Pantura sering disebut ikan kokot. Ikan kokok atau kokot memang menjadi primadona di Kabupaten Bantul, baik di wilayah pesisir pantai ataupun populer di pasar-pasar tradisional. Asalnya pun bukan dari Pantai Selatan DIY tetapi dari Pantura, baik dari Tuban atau Semarang (Pasar Kobong). Ukuran populer yang disukai masyarakat adalah 1 kg berisi 5 – 6 ekor sehingga pas untuk ukuran hidangan keluarga. Ikan kokok atau kokot mempunyai ciri pada bagian ekor terdapat sisik tebal dan cara pengelupasannya membutuhkan tenaga ekstra. Dalam bahasa Jawa harus dikletek (dikelupas).

                Nah, berbeda dengan ikan kokok, ikan cakalang memang mempunyai ukuran yang lebih besar. Tetapi dengan alat tangkap yang berupa jaring purse seine, ukuran yang dikehendaki pasar adalah 1 kg lebih. Di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng, ikan cakalang disebut juga sebagai ikan blereng. Jenis ikan ini sama dengan yang dikenal oleh masyarakat internasional yang disebut juga sebagai skipjack tuna. Jadi, dalam ilmu taksonomi disebutkan bahwa ikan cakalang termasuk dalam keluarga ikan tuna yang mempunyai ciri-ciri bagian punggung berwarna biru kehitaman (gelap), sementara di bagian perut (bawah) berwarna terang dengan 4 – 6 buah garis hitam yang memanjang pada bagian samping badan. Cakalang termasuk ikan perenang cepat dan mempunyai sifat makanan yang rakus. Ikan jenis ini sering bergerombol yang hampir bersamaan di wilayah perairan pelagis hingga kedalaman 200 m untuk melakukan ruaya jarak jauh. Oleh karena itu, jamak ditemui ikan ini mampu menghancurkan jaring mini purse seine dalam setiap operasinya. Berbeda dengan ikan layang (Decapterus spp.), begitu terkena jaring dan mengalami stress, ikan cakalang akan mati dan terkonsentrasi di dasar jaring purse seine sehingga memperbesar peluang hancurnya jaring yang dioperasikan.

                Lalu, ke mana ikan ini di tata-niagakan? Pasar menghendaki ikan cakalang digunakan sebagai bahan-baku industri pengalengan ikan, yang mayoritas berada di Jawa Timur. Pengolahan ikan cakalang di DIY belumlah sepopuler ikan tuna yang telah menempati urutan terpopuler olahan hasil kelautan dari PPP Sadeng. Di berbagai daerah, ikan cakalang dapat diolah menjadi cakalang fufu, cakalang asap, abon ikan cakalang, hingga diolah menggunakan metode pemindangan. Kami berharap, industri hilir ikan cakalang segera terbangun sehingga dapat turut serta dalam upaya meningkatkan konsumsi ikan DIY. Oleh karena itu, mari makan ikan cakalang agar sehat, cerdas, dan kuat!. (rz)