Berita

Bagian 2 - Diskusi Prospek Penangkapan Ikan Tuna Besar dengan Nelayan Gorontalo : Prospek Menjanjikan, Mari Belajar Bersama

Senin Pon, 10 September 2018 12:57 WIB 166

foto
Perkembangan Perbaikan Fisik Kapal Motor (KM) Nelayan 10 GT (Dokumentasi : Fakhrudin Al Rozi)

Salah satu hal yang menyebabkan ikan tuna dari Gorontalo mempunyai pangsa pasar ekspor karena setiap kali melaut, nelayan fokus melakukan kegiatan penangkapan ikan tuna besar (bukan jenis ikan lainnya). Hal tersebut mendorong timbulnya tata-niaga ikan tuna secara luas. Aspek kualitas juga sangat diperhatikan yakni melalui perawatan ikan secara maksimal. Perbandingan antara ikan dan es sebanyak 1 : 2 sehingga tingkat kesegaran ikan sangat terjaga. Oleh karena itu, diperlukan komitmen kuat dari nelayan dan pelaku usaha lainnya agar potensi ikan tuna bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi kesejahteraan mereka. Kebijakan tata-niaga ikan tuna besar juga perlu ditempuh agar nelayan bersemangat melakukan penangkapan ikan tuna besar di perairan WPP 573 ini. Sebagai langkah awal, akan dilakukan perbaikan fisik Kapal Motor (KM) Nelayan 2016 milik Koperasi Inka Bantul VII Projo Mino, khususnya perbaikan pada bagian palka kapal untuk menampung ikan hasil tangkapan.

Pewawancara (P): Saat ini Koperasi memiliki 3 unit KM Nelayan berukuran 10 GT. Mengenai desain kapal pemancing tuna, bagaimana ya Pak? Apa perlu dilakukan modifikasi?

Narasumber (N): Secara desain kapal pemancing ikan tuna seperti KM Nelayan 10 GT, yakni terdapat kamar di bagian belakang, bagian anjungan kami lengkapi dengan terpal. Tujuannya ketika kita mau memancing siang hari, terpal kita pasang. Untuk memancing malam hari, kita gulung. Kalau terjadi hujan, kita bisa berlindung di kamar bagian belakang. Yang penting kita bisa duduk, tidak basah, serta nyaman untuk bekerja. Karena pada dasarnya memancing ikan tuna memerlukan kesabaran dan kapal harus standby sambil menurunkan armada semut (papura) untuk mencari umpan. Modifikasi hanya perlu dilakukan pada bagian palka saja yakni melalui penambahan sekat menjadi 6 bidang, karena saat ini palka KM Nelayan 10 GT tidak bersekat. Ketiadaan sekat ini beresiko karena ikan akan saling bergesekan ketika gelombang menerjang.

 

P: Apakah dengan modifikasi palka dan pemakaian es, ikan bisa bertahan lama selama kegiatan penangkapan?

N: Bisa, dalam melakukan perawatan ikan kita memakai sistem chilling atau es kering. Nanti air kita ganti setiap 3 hari sekali, sehingga dalam waktu 7 hari melaut ikan tuna masih dalam keadaan segar.

 

P: Untuk armada semut (papura), bisa dijelaskan lebih lanjut?

N: Papura dibuat dari triplek atau fiber, dibentuk seperti perahu berkapasitas 1 orang serta memakai mesin ketinting 7,5 PK. Tujuannya untuk mencari umpan. Jadi nanti perahu tersebut diturunkan ketika kita melakukan penangkapan tuna. Setelah selesai, papura diangkut lagi ke dalam kapal. Nanti kita kirim gambarnya biar bisa dibuat di Jogja.

 

P: Setuju Pak, konsepnya ada kapal besar dan perahu kecil. Nanti kita buatkan rakit tersebut. Pengalaman di daerah Prigi dan Sendang Biru mereka mencari ikan tuna sampai 200 mill jauhnya. Kira-kira Pak, apakah bisa mengajari Nelyan Bantul menangkap tuna menggunakan KM Nelayan 10 GT?

N: Nanti kita bantu Pak. Banyak yang kita latih, seperti di Bacan, Maluku Utara, sampai Flores. Yang pertama kita lakukan adalah memahamkan sistem kerja kapal penangkap ikan tuna. Secara prospek penangkapan ikan tuna besar menjanjikan, kenapa kita tidak belajar? Semisal ikan tuna besar belum muncul, setidaknya sudah bisa caranya. Nanti kita ajari cara membuat umpan, merakit pancing, sampai aplikasi jaket tuna karena pada dasarnya prospeknya menjanjikan, mari kita belajar bersama. Mohon disiapkan kapalnya, rumponnya, serta perizinan yang belum ada.

Pada bagian kedua ini, menitikberatkan agar persiapan operasional KM Nelayan 10 GT bisa dilakukan secara maksimal. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Koperasi Inka Bantul VII Projo Mino diantaranya adalah rehab KM Nelayan 10 GT serta pengurusan SIPI di Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (KPPTSP) yang berada di Jl. Brigjen Katamso, Komplek THR, Yogyakarta. Perbaikan fisik 1 unit KM Nelayan 10 GT telah selesai sejak akhir Agustus 2018 kemarin serta perizinan SIPI telah diajukan sejak 5 September 2018. Setelah perizinan SIPI beserta Sertifikat Kelaikan dan Pengawakan Kapal Perikanan beserta Pas Besar yang berasal dari KSOP Cilacap terbit, secara bertahap Koperasi akan memulai kegiatan penangkapan ikan tuna besar di wilayah Pantai Selatan Yogyakarta. (rz)