Berita

Diskusi Prospek Penangkapan Ikan Tuna Besar antara Koperasi Inka Bantul VII Projo Mino dengan Nelayan Gorontalo (bagian 1)

Kamis Pon, 16 Agustus 2018 14:47 WIB 210

foto
Ikan Tuna Mata Besar (Bigeye Tuna) dari Pantai Selatan DIY (Foto: Fakhrudin Al Rozi)

              Awal bulan Juli sampai awal Agustus 2018, dua nelayan senior dari Gorontalo melakukan pelatihan penangkapan ikan tuna besar di Pantai Sadeng Gunungkidul. Melalui fasilitasi pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (Diskanla) DIY, mereka mengajari nelayan Sadeng mencari ikan tuna besar, mulai dari membuat umpan, merakit pancing, hingga aplikasi jaket tuna. Dialah pak Iwan dan Amin, yang merelakan 25 hari membantu nelayan DIY melakukan diseminasi teknologi penangkapan ikan tuna besar. Sangat dipahami bahwa keberadaan ikan tuna besar di selatan DIY sangatlah melimpah, tetapi hingga kini potensi tersebut belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan karena keterbatasan teknologi dan sumberdaya manusia. Selama ini banyak terdapat kesalahan penyebutan jenis ikan di masyarakat kita, yakni antara ikan tuna, baby tuna, ataupun tongkol walang. Ikan tuna berukuran 500 gram – 1000 gram yang jamak kita temui di pasar selama ini termasuk dalam jenis baby tuna karena berukuran kecil. Istilah tuna pada dasarnya diberikan kepada ikan familia Scombridae tersebut untuk ukuran besar. Sementara itu, dari pantai utara Jawa terdapat ikan tongkol walang yang dalam tata-niaga di masyarakat dikatakan sebagai ikan tuna. Melalui artikel ini, kami akan sampaikan hasil diskusi antara kami dengan Pak Iwan dan Pak Amin dalam beberapa bagian dengan harapan nelayan Bantul bisa memulai menjejakkan langkahnya untuk melakukan penangkapan ikan tuna besar di pantai selatan DIY.

Pewawancara, Kop. Inka Bantul VII Projo Mino (P): Pak Amin & Pak Iwan, menurut Bapak bagaimana potensi ikan tuna besar yang ada di pantai selatan DIY saat Bapak melakukan pelatihan di Sadeng?

Narasumber, Pak Iwan dan Pak Amin (N): Potensi ikan di Pantai Selatan DIY masih banyak, anak cucu masih bisa memiliki. Ikan sudah banyak terlihat ketika lampu dinyalakan. Keadaan ini berbeda dengan di Gorontalo, ikan tidak mau nampak (ikan di Gorontalo tidak nampak saja masih bisa diambil, apalagi jika ikan mau nampak ke permukaan). Seandainya di Gorontalo seperti ini potensi ikannya, pasti sudah kaya para nelayan yang di sana.

 

P: Pak Amin dan Pak Iwan tadi mengatakan bahwa potensi ikan di Gorontalo tidak sebanyak di Pantai Selatan DIY. Tetapi kenapa dari Gorontalo  bisa ekspor ikan tuna?

N: Karena di Gorontalo hanya fokus pada bagaimana bisa menangkap ikan tuna. Jangan ambil lain selain ikan tuna. Pikiran hanya di ikan tuna. Tidak di ikan lain seperti cakalang, baby tuna atau lemadang. Boleh menangkap ikan lain tetapi jika kegiatan menangkap ikan tuna sudah selesai dilakukan, misal sudah mau pulang barulah kita tangkap ikan lain.

 

P : Apa yang menjadi pembeda di Sadeng dan Gorontalo, Pak?

N: Kalau disini kan beda, ada ikan apa saja diambil. Buat apa capek-capek ambil tuna, sudah susah nyarinya harganya sama. Tidak ada rangsangan karena harga disamakan dengan ikan lain. Kejar kualitas sehingga penanganan harus utama. Ada GKM (gugus kendali mutu) yang memastikan ikan tuna tetap segar sampai di darat.

 

P: Mengenai sistem penangkapan, apakah sama dengan di Gorontalo?

N: Pancing tuna fokus di kapal, standby. Tidak jalan-jalan. Rumpon harus disiapkan karena pancing tuna itu nelayan akan tinggal lama di rakit, ada perahu kecil cari umpan (armada semut, istilah kami di Gorontalo adalah papura). Ada 4 – 5 orang memakai papura yang mencari umpan. Kerja juga mengutamakan keselamatan dan kesehatan, boleh kerja tetapi kalau istirahat yang nyaman. Kapal sekoci di Sadeng kurang mengutamakan kenyamanan karena tidak beratap. Pasti kehujanan jika cuaca sedang mendung sehingga istirahat juga tidak bisa nyaman. Di Gorontalo, bentuk kapal seperti KM Nelayan dengan bagian anjungan dikasih terpal sebagai tempat berlindung dari terik matahari. Seumpama hujan, bisa terlindung dari hujan dengan cara berpindah ke ruangan belakang. Nah, di Sadeng tidak seperti itu. Kami tidak membayangkan jika hujan akan bagaimana nanti (bersambung).

             Wawancara bagian 1 menitikberatkan bahwa sebenarnya potensi ikan tuna besar di Pantai Selatan DIY masih sangat melimpah. Tetapi untuk sampai saat ini nelayan DIY belum fokus mencari tuna besar, sehingga perlu percontohan kapal penangkap tuna besar. Koperasi Inka Bantul VII Projo Mino berencana memberdayakan 3 unit KM Nelayan 857, KM Nelayan 858, dan KM Nelayan 859 sebagai kapal khusus penangkap ikan tuna besar. Segala persiapan sedang diupayakan, diantaranya perizinan, rehap palka kapal, pengadaan rumpon, hingga ketersediaan SDM yang mendukung. (rz)