Berita

PELATIHAN PENGARUH IKLIM TERHADAP TANAMAN

Rabu Legi, 25 Juli 2018 13:56 WIB 520

foto
Kepala Diperpautkan Kabupaten Bantul, Ir. Pulung Haryadi, M.Sc bersama para peserta pelatihan Iklim (foto : Umi Fuaziah, STP, M.Sc.)

            Budidaya pertanian sangat dipengaruhi oleh iklim yang terjadi, namun tidak semua petani memiliki wawasan yang cukup dalam menghadapi hujan dan kemarau yang saat ini terjadi kadang tidak terduga dan tidak seperti biasanya (anomali iklim). Pengetahuan petani tentang iklim dapat meningkatkan produksi pertanian serta mencegah gagal panen. Sehubungan dengan hal tersebut, Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul akan mengadakan “Pelatihan Pengaruh Iklim Terhadap Tanaman”. Pelatihan  diselenggarakan oleh Seksi Perbenihan dan Perlindungan, Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan dengan menggunakan anggaran dari APBD Kabupaten Tahun 2018. Pada tahun ini,  pelatihan dilaksanakan sebanyak dua angkatan. Angkatan pertama pada tanggal 10, 11, 12 Juli 2018 di Rumah Makan Nunik 2, Depok, Parangtritis, Kretek sedangkan angkatan kedua pada tanggal 17, 18, 19 Juli 2018 di Balai RT Dermojurang, Seloharjo, Pundong dengan jumlah peserta masing-masing sebanyak 30 orang petani yang berasal dari  kecamatan setempat. Pelatihan diisi oleh beberapa narasumber diantaranya Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan, Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Camat dari masing-masing kecamatan, narasumber dari Stasiun Klimatologi Mlati, penyuluh pertanian, petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), analis data, serta beberapa staf dari Diperpautkan Kabupaten Bantul.

            Pelatihan diawali dengan penjelasan kebijakan pembangunan pertanian di kecamatan. Camat Kretek, Cahya Widada, S. Sos, M.H menambahkan bahwa pelatihan iklim diadakan di Kretek ini merupakan usulan dari kecamatan Kretek yang diakomodir oleh Diperpautkan Kabupaten Bantul sehingga para peserta diharapkan dapat memanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan dalam pelatihan ini. Sedangkan Sri Umayati SH selaku Camat Pundong memaparkan kondisi alam Pundong tertama di Seloharjo yang ketika kemarau sering kekurangan air irigasi sehingga diharapkan dengan pelatihan ini dapat meningkatkan produktivitas pertanian di Pundong dan meningkatkan kesejahteraan petani. Selanjutnya Kepala Diperpautkan Kabupaten Bantul, Ir. Pulung Haryadi, M.Sc memaparkan mengenai Kebijakan Diperpautkan mengenai produksi dan produktivitas pertanian di Kabupaten Bantul. Kabid. TPHBun, Ir. Yunianti Setyorini, M.Sc mengisi mengenai pengaruh cuaca/ iklim terhadap hama dan penyakit tanaman. Penggunaan berbagi informasi iklim untuk sektor pertanian disampaikan oleh Kasi Perbenihan dan Perlindungan, Umi Fuaziah, STP, M.Sc. Pentingnya petani mengetahui berbagai perubahan cuaca dalam satu tahun menjadi landasan bahwa petani perlu pengetahuan mengenai pranoto mongso yang penjelasannya dipaparkan oleh penyuluh pertanian dari masing-masing lokasi yaitu Kretek dan Pundong.

            Materi mendalam mengenai iklim disampaikan lengkap oleh narasumber dari Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta. Pemahaman Informasi dan Prakiraan Iklim disampaikan oleh Eliyah Ulfah R, SP (angkatan I) dan Etik Setyaningrum, M.Si (angkatan II). Berdasarkan prakiraan iklim, Kondisi Dinamika Laut dan Atmosfer dalam tahun 2018 dalam Juli - September kondisi normal , Oktober – November 2018  berpotensi muncul El Nino lemah (Dampak tidak signifikan). Puncak Musim Kemarau diprediksi akan terjadi di bulan Agustus 2018. Prospek awal musim hujan 2018/ 2019 wilayah DIY terjadi pada Akhir Oktober hingga November 2018, dengan puncak musim hujan 2018/2019  terjadi pada bulan  Januari - Februari 2018. Andriyas Aryo P, M.Si (angkatan I) dan Endah Kurniasih, SP (angkatan II)  memaparkan mengenai iklim ekstrim dan perubahan iklim serta dampaknya bagi pertanian.

            Widodo, SP, M.Sc sebagai koordinator POPT Kabupaten Bantul menjelaskan mengenai pembentukan awan dan terjadinya hujan. Dari pengetahuan tentang hujan tersebut petani lebih paham mengenai pengelolaan air. Ditambahkan mengenai aplikasi neraca air lahan dalam manajemen pertanian serta teknik pengamatan dampak bencana alam oleh POPT kecamatan Kretek dan Pundong. Cara menghitung curah hujan, pengenalan alat ukur cuaca dan penangkar hujan sederhana juga disampaikan kepada peserta pelatihan sebagai tambahan pengetahuan.

            Beberapa penelitian mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman disampaikan oleh narasumber dari Diperpautkan yang menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai informasi cuaca dan iklim sangat diperlukan di sektor pertanian. Upaya yang dapat dilakukan menghadapi adanya perubahan iklim ini dapat dilakukan dengan cara mitigatif dan adaptif. Mitigatif artinya mengurangi penyebab perubahan iklim yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga mengurangi pemanasan global. Pada pelatihan ini disampaikan materi aplikasi pupuk organik untuk mengurangi pemanasan global sebagai salah satu metode mitigatif. Sedangkan cara adaptif adalah cara menyesuaikan diri dengan adanya perubahan iklim tersebut. Misalnya dengan penyesuaian waktu dan pola tanam. Teknologi adaptif yang dijelaskan lengkap pada pelatihan ini adalah sumur resapan (oleh narasumber dari Diperpautkan) serta teknologi irigasi Kabupaten yang disampaikan oleh praktisi penemu irigasi Kabut yaitu Bapak Sumarna dari Sanden.  Pada akhir pelatihan, peserta dilatih untuk menghitung laba rugi usaha pertanian mereka atau sering disebut analisa usaha tani. Perhitungan analisa usaha tani ini dipandu oleh Analis data dari kecamatan Kretek maupun Pundong. (Mk)