Berita

Kurangi Kesenjangan Harga Bawang Merah, Petani di Bantul Bangun Gedung Lelang

Rabu Legi, 7 Maret 2018 11:01 WIB 266

foto
Peresmian Gedung Lelang Bawang Merah di Padukuhan Samiran, Parangtritis, Kretek, Bantul (Foto : Y. Arybowo)

TRIBUNJOGJA.COM - Gedung Lelang Bawang Merah di Padukuhan Samiran, Parangtritis, Kretek diresmikan, Selasa (06/03/2018) siang.

Peresmian dilakukan oleh Bupati Bantul yang diwakili oleh Asek II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Bambang Guritno SH, bersama Ketua Tim Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia cabang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Probo Sukesih.

Selain gedung lelang, dalam kesempatan ini juga diresmikan kios Saprodi pertanian Program Sosial Bank Indonesia dan kelompok tani Ngudi Makmur, Samiran, Parangtritis.

Ketua kelompok Ngudi Makmur, Kadiso mengatakan, program pengembangan klaster bawang merah yang dibina oleh Bank Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Bantul di Samiran dilaksanakan selama 3 tahun.

"Dimulai pada tahun 2015, kegiatan pembinaan klaster Bawang Merah bertumpu pada peningkatan kualitas bawang merah. Studi banding dilakukan ke sentra bawang merah di Kediri dan Nganjuk. Kami juga mendapat bantuan dua mesin traktor," terang Kadiso, Selasa (06/03/2018)

Pembinaan kemudian berlanjut pada tahun 2016, klaster pembinaan bertumpu pada budidaya bawang merah yang ramah lingkungan.

"Kita melaksanakan studi banding di kawasan sentra sayuran organik Salatiga, Boyolali dan Sleman," terangnya.

" Kami juga diajak magang untuk tata niaga bawang merah di Panjatan, Kulonprogo. Dalam program ini kami mendapat sarana tata niaga pemasaran, berupa dua unit alat angkut sepeda motor," imbuh dia.

Kemudian, pendampingan berlanjut pada tahun 2017 dengan bertumpu pada penataan tata niaga bawang merah.

"Semacam pengelolaan bawang merah menjadi bawang goreng. Studi banding dilakukan di Kabupaten Cirebon Majalengka Jawa Barat," ujar dia.

Lebih lanjut, Kadiso menjelaskan, selain pendampingan pada produktifitas pertanian, para petani di Samiran juga didampingi oleh Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk berbadan hukum menjadi kelompok Tani Ngudi Makmur.

"Sekarang kami memiliki satu unit gedung pasar lelang bawang merah dan kios saprodi pertanian. Kami juga sudah berbadan hukum dan memiliki Koperasi," terangnya.

Dalam pengerjaanya, Gedung Lelang Bawang Merah Samiran memakan waktu selama 70 hari dengan menelan anggaran sebesar Rp 197.392.000-.

"Dana bersumber dari bantuan program sosial Bank Indonesia 150 juta dan Rp 47 juta dari swadaya dari para petani," paparnya.

Ia berharap, dengan diresmikan dan mulai beroperasinya gedung pasar lelang bawang merah di Samiran nantinya dapat mengurangi kesenjangan harga bawang merah yang selama ini dirasakan antara petani dan tengkulak.

Selain itu, dengan adanya kios saprodi pertanian nantinya diharapkan mampu menyediakan sarana pertanian dengan harga yang layak.

"Mengingat di Desa Parangtritis ini belum menikmati harga pupuk subsidi dengan harga yang ideal. Para petani terpaksa harus membeli di luar desa. Namun jaraknya jauh. Akhirnya banyak petani lebih memilih membeli ke kios yang tidak resmi dengan harga yang cukup tinggi," terang dia.

"Selain pasar lelang. Gedung baru ini juga nanti rencananya akan dimanfaatkan sebagai kegiatan perkoperasian pada kelompok pertanian Ngudi Makmur," imbuh dia. (tribunjogja)

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2018/03/06/kurangi-kesenjangan-harga-bawang-merah-petani-di-bantul-bangun-gedung-lelang?page=all