Berita

Mengenal Ikan Layang dan Potensinya sebagai Bahan-baku Ikan Kranjangan

Kamis Legi, 15 Februari 2018 11:07 WIB 4520

foto
Aktivitas penangkapan ikan (Foto : F. Rozi)

Iwak kranjangan (Bahasa Jawa), demikian kita menyebutnya. Ikan yang diolah dengan cara perebusan serta penggaraman tersebut sangat akrab di sekitar kita, bahkan ketika kebutuhan industri pemindangan mengalami kekurangan, bahan-bakunya didatangkan dari luar negeri. Bukan tanpa sebab, ikan layang sudah menjadi kebutuhan utama pengolahan pemindangan ikan di Indonesia. Jika kita runut lebih lanjut, sebenarnya ikan olahan tersebut didatangkan dari Kabupaten Pati atau Rembang, Jawa Tengah secara harian. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai ribuan keranjang setiap harinya. Untuk saat ini, jenis olahan tersebut belum bisa diproduksi secara mandiri oleh pengolah ikan di Jogjakarta karena keterbatasan bahan-baku dan akses pemasaran.

Pada hakikatnya, iwak kranjangan adalah jenis olahan dari ikan layang yang juga banyak terdapat di pantai selatan DIY. Ikan layang tersebut hanya ditemui pada perairan > 30 mill dari daratan sehingga amat jarang diperoleh dari nelayan yang menggunakan Perahu Motor Tempel (PMT). Ikan ini merupakan ikan jenis pelagis kecil perenang cepat yang bergerombol biasanya dengan ikan pelagis jenis lain seperti lemuru, tembang, kembung, selar, atau ekor kuning. Ikan layang memiliki bentuk memanjang dan pipih dengan panjang tubuh berkisar 15-25 cm yang ditutupi oleh sisik lingkaran (cycloid) halus. Melalui penggunaan jaring purse seine, ikan layang berbagai ukuran dapat ditangkap. Namun, yang menjadi kendala adalah ukuran ikan layang yang berasal dari pantai Selatan DIY biasanya berukuran besar, yakni antara 200 – 300 gram tiap ekornya. Padahal, iwak kranjangan yang beredar saat ini berukuran kecil, sekitar 50 – 100 gram tiap ekornya. Bisa dikatakan, pangsa pasar ikan layang sangat luas yakni domestik ataupun internasional.

Proses pengolahan ikan layang sangat sederhana, yakni melalui proses kombinasi perebusan atau pemasakan dengan penggaraman. Pemakaian garam difungsikan sebagai pengawet ikan sekaligus memperbaiki citarasa ikan, sedangkan pemanasan akan mematikan sebagian besar bakteri yang ada dalam ikan, yakni bakteri pathogen dan bakteri pembusuk. Adanya pemanasan juga menyebabkan tekstur ikan menjadi lebih kompak dan awet. Proses pemasakan iwak kranjangan dapat dibuat dengan berbagai macam cara, namun demikian proses pembuatan mempunyai prinsip sama yakni :

Proses penyiangan dan pencucian Ikan; Penyusunan ikan ke dalam wadah; Penggaraman ikan; Perebusan ikan; serta Penyimpanan ikan. Ikan terlebih dahulu disortasi dan dicuci sesuai dengan kualitasnya, kemudian ditata ke dalam keranjang, ditaburi garam, kemudian direbus ke dalam air mendidih secara singkat. Untuk menghindari pecah perut, ikan diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling menekan ketika proses perebusan. Hasil dari proses olahan tersebut adalah produk awetan ikan dengan kadar garam rendah. Melalui pengolahan minimal ini, didapatkan ikan pindang dengan citarasa khas serta siap konsumsi dan disitribusikan. Dalam proses distribusinya, wadah ikan yang berupa anyaman bambu langsung digunakan sebagai media pengangkutan atau penyimpanan ketika ikan pindang dipasarkan.

Nah, melihat bahwa proses pemindangan iwak kranjangan ini sangatlah sederhana disertai kebutuhan bahan-bakunya bisa diperoleh dari hasil melaut sendiri, maka Koperasi Inka Bantul VII Projo Mino berencana melakukan kegiatan pemindangan ikan secara mandiri. Sejauh ini mutu iwak kranjangan yang dihasilkan masih bervariasi, harapan ke depan adalah secara mutu dan kualitas ikan yang dihasilkan bisa seragam serta mempunyai cirikhas yang berbeda. Mohon doa agar kegiatan pemindangan bisa secepatnya terealisasi mengingat kebutuhan masyarakat terhadap ikan olahan ini sangatlah besar. Oh ya, beberapa video kegiatan penangkapan ikan layang menggunakan jaring purse seine dengan kapal Inka Mina 646 bisa disimak melalui video yang kami upload di Youtube dengan kata kunci pencarian = Inka Mina 646. Potensi bahan-baku ikan layang tersebut melimpah bukan? Salam bahari dan Jalesveva jayamahe. (rozi)