Berita

Pengalaman Melaut Selama 7 Hari di Pantai Selatan DIY – Teknik Penangkapan Ikan dengan Purse Seine (Bagian 2)

Jumat Pahing, 12 Januari 2018 12:45 WIB 1311

foto
Dokumentasi kegiatan menangkap ikan dengan Kapal Inka Mina (Foto : Dok. Fakhrudin Al Rozi)

Artikel ini merupakan bagian ke-2 dari tulisan sebelumnya yakni Pengalaman Melaut Selama 7 Hari di Pantai Selatan DIY (Bagian 1). Pada hari kedua melaut dengan jarak 80 mill dari daratan, kegiatan penangkapan ikan belum bisa dilakukan karena terjadi badai di laut lepas. Kegiatan penangkapan ikan baru bisa dilakukan pada hari ke-3 sekira jam 03;00 WIB. Pascabadai menerjang selama semalam, pagi harinya lautan menjadi sangat teduh. Sungguh hal tersebut merupakan misteri, sebab perubahan cuaca di pantai selatan DIY terjadi hanya dalam hitungan jam saja. Ombak yang tadinya tinggi, bahkan airnya mengenai geladak kapal tiba-tiba menjadi tenang. Angin juga bertiup sepoi-sepoi, kilat menghilang, serta suasana nampak damai. Ikan laura/salmon nampak mengintari tiap sudut kapal, ikan dengan berbagai ukuran mulai nampak mendekati cahaya dari lampu galaksi yang kami pasang. Tak pelak, kesempatan tersebut digunakan oleh beberapa anak buah kapal (ABK) untuk melakukan aktivitas pemancingan ikan.

Pada bagian ini akan kami paparkan mengenai tata-cara penangkapan ikan menggunakan jaring purse seine.

 

 

 

Penyalaan Rakit Lampu (Pelak)

Kegiatan penangkapan ikan efektif dilakukan pada hari ke-3 yakni ketika cuaca serta keadaan ombak mendukung. Sadar cuaca sedang teduh, disertai indikator fish finder mengindikasikan banyak ikan yang telah berkumpul di sekitar kapal, Nahkoda menginstruksikan kepada seluruh Anak Buah Kapal (ABK) agar mempersiapkan rangkaian penebaran jaring. Lampu galaxy berdaya 400 watt sebanyak 16 buah dinyalakan bersamaan. Adanya nyala lampu mampu menarik perhatian ikan (atractif), diantaranya ikan layang/salem, laura/salmon, cakalang, tuna, ataupun lemadang yang merupakan golongan ikan pelagis. Tingkah laku ikan pelagis kecil adalah suka bergerombol diantara jenis ikan itu sendiri maupun bersama-sama dengan jenis ikan lainnya dan tertarik pada cahaya maupun benda terapung. Oleh karena itu, jika ikan belum terkumpul pada suatu catchable area atau jika ikan di luar kemampuan tangkap jaring maka ikan dapat diusahakan datang dan berkumpul dengan menggunakan cahaya, rumpon, dan lain sebagainya (Ayodhyoa, 1981).

Pada saat ikan telah terkonsentrasi di sekitar kapal karena tertarik pada cahaya lampu galaxy, pelak diturunkan dari kapal. Pelak dijaga oleh 2 orang juru arus sehingga arah pergerakan pelak dapat dikontrol. Secara bertahap lampu galaxy dimatikan dan secara bersamaan lampu yang terdapat pada pelak dinyalakan. Setelah kesemua lampu galaxy dimatikan dan digantikan oleh nyala lampu pada pelak, maka secara otomatis ikan akan mengikuti cahaya yang terdapat pada pelak.

Setting Jaring

Kapal perlahan-lahan menjauhi pelak untuk mengambil posisi pelingkaran, sementara itu awak kapal yang bertugas pada penurunan jaring bersiap pada posisinya masing-masing. Penurunan jaring dimulai dengan melakukan pelemparan pelampung tanda yang telah diikatkan tali ris atas dan tali kolor depan sebagai titik awal setting atau pelingkaran. Bersamaan dengan melajunya kapal, bagian-bagian jaring mulai diturunkan ke laut. Agar proses penurunan jaring lingkar berlangsung cepat, lancar, dan untuk menghindari terbelit atau tersangkutnya bagian-bagian jaring maka beberapa ABK yang mengawasi penurunan jaring. Dengan panduan lampu yang terdapat pada pelak, nahkoda memperkirakan derajat haluan kapal. Menjelang mendekati lampu tanda atau titik akhir, kapal dipercepat maksimal agar proses penurunan alat tangkap segera selesai sebelum ikan melarikan diri.

Beberapa meter sebelum titik akhir, mesin kapal dihentikan sehingga proses penurunan jaring telah selesai. Kemudian juru tali (purse line) mengambil tongkat tanda dan melepas tali ris dan tali kerut depan. Tali kerut depan dan belakang dilewatkan roller sebelum diserahkan ke petugas yang berada di gardan. Pada tahap tersebut, penarikan jaring (hauling) segera dilakukan.

Penarikan Jaring

Penarikan jaring dilakukan dengan cara menarik tali utama atau biasa disebut tali kolor, badan jaring, dan pemberat. Penarikan tali kolor (purse line) menggunakan gardan yang terhubung dengan mesin induk Yuchai Marine 170 – 200 HP, sementara penarikan badan jaring dilakukan secara manual oleh semua ABK. Hal ini dimaksudkan agar bagian bawah jaring mengerucut dan membentuk kantong. Nah, apabila kita mengalami mabuk laut, dipastikan tidak kuat menarik jaring karena membutuhkan kondisi fisik yang kuat karena posisi kapal dinamis mengikuti gelombang laut. Disinilah letak perbedaan ABK yang berasal dari DIY dan luar DIY, ABK yang berasal dari DIY biasanya tidak kuat menarik jaring dalam keadaan mabuk laut sementara yang berasal dari luar DIY sanggup melaksanakan tugas sampai selesai.

Pengangkatan Ikan

Pada saat pengangkatan badan jaring, terdapat sisa sebagian badan jaring yang dibiarkan berada di atas permukaan laut. Hal tersebut ditujukan untuk memberikan ruang terhadap jaring karena telah terisi dengan ikan hasil tangkapan. Ikan dari berbagai jenis dan ukuran mulai nampak, diantaranya Tuna ( Madidihang ), Cakalang (Katsuwonus pelamis), Lemadang (Coryphaena hippurus), Sunglir (Elagatis bipinnulatus), dan Layang Benggol (Decapterus russelli). Hasil tangkapan diambil menggunakan caduk dan diletakkan di atas dek kapal untuk kemudian disortasi berdasarkan ukuran dan jenis hasil tangkapan. Dalam setiap melakukan kegiatan penangkapan, rata-rata diperoleh ikan sebanyak 5 – 10 ton ikan. Kami pernah mengalami hal unik yakni ternyata hasil ikan berbanding lurus dengan kesehatan ABK. Pada saat mendapat ikan dalam jumlah melimpah, ternyata menjadi obat mabuk laut yang sangat mujarab alias yang tadinya puasa makan minum karena mabuk laut tiba-tiba langsung sembuh.

Sortasi Ikan

Hal paling menyenangkan adalah ketika kapal mendapatkan hasil yang cukup, suasana di kapal dengan ABK sejumlah 25 – 30 nelayan tersebut menjadi lebih hidup. Banyak keceriaan yang tersebar di setiap sudut. Sortasi penting dilakukan dengan tujuan menjaga kualitas ikan. ABK dengan sukacita memilih jenis dan ukuran ikan untuk ditempatkan pada bagian palka yang berbeda. Ikan besar ditempatkan pada bagian palka paling depan, dengan tujuan menjaga agar ikan yang beurkuran lebih kecil tidak mengalami kerusakan karena tertindih. Alhamdulillah, Puji dan syukur selalu Kami haturkan kepada Sang Pencipta atas rezeki yang telah Kami terima, semoga berkah. Aamiin

Penyimpanan Ikan

Setelah ikan diangkat menuju palka ikan, tahap selanjutnya adalah penyimpanan hasil tangkapan di palka dengan menggunakan es. Es diperhalus sehingga tidak melukai ikan ketika penyimpanan dilakukan. Dalam 1 trip penangkapan, jumlah es yang dibawa adalah 10 ton. Kapal Inka Mina 646 dalam setiap kali melakukan kegiatan penangkapan membutuhkan 25 – 30 tenaga kerja (ABK) dengan bagian kerja yang telah ditentukan masing-masing. Oleh karena itu dalam setiap operasional, kegiatan sangat meriah dengan sistem kerja terstruktur. Kegiatan operasional purse seine ini akan terus berulang dilakukan sampai kapal mendapatkan hasil yang maksimal. Apabila hasil tangkapan sudah dirasa cukup, nahkoda langsung menghubungi pengurus kapal yang berada di darat menggunakan radio SSB agar kegiatan pembongkaran ikan segera dilakukan begitu kapal mendarat. Nah, bagaimana potensi sumberdaya ikan beserta jenis ikan apa saja yang dihasilkan Kapal Inka Mina 646? Nantikan pada artikel Jumat minggu depan. (rozi)