Berita

Pengalaman Melaut Selama 7 Hari di Pantai Selatan DIY (Bagian 1)

Jumat Kliwon, 5 Januari 2018 17:00 WIB 1071

foto
Dokumentasi kegiatan menangkap ikan dengan Kapal Inka Mina (Foto : Dok. Fakhrudin Al Rozi)

Semangat Among Tani Dagang Layar yang diperkenalkan oleh Gubernur DIY membawa perubahan besar kepada masyarakat Yogyakarta, khususnya bagi masyarakat pesisir. Pelaku utama perikanan mulai berkontribusi melalui caranya masing-masing, diantaranya adalah mulai mempraktikkan kegiatan melaut hingga tujuan lepas pantai menggunakan kapal perikanan bertonnase besar. Perlu kita ketahui, bahwa struktur kapal perikanan tangkap di DIY saat ini masih didominasi oleh perahu motor tempel (PMT) dengan prosentase mencapai 89,76%; kapal < 10 GT sebanyak 5,79%; dan kapal > 10 GT termasuk di dalamnya Kapal Inka Mina sebanyak 4,45%  (Partosuwiryo, 2014). Sejak tahun 2011, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghibahkan kapal perikanan > 30 GT yakni Kapal Motor (KM) Inka Mina dengan alat tangkap purse seine dan jaring insang. Diantara kelompok nelayan yang memperoleh bantuan Kapal Inka Mina adalah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Inka Bantul VII yang pada Tahun 2015 KUB tersebut meningkatkan kapasitas usaha menjadi Koperasi Inka Bantul VII Projo Mino.

Koperasi ini mengelola 1 unit Kapal Perikanan > 30 GT, yakni Kapal Motor Nelayan (KMN) Inka Mina 646. Kapal dengan panjang 18,94 m; lebar 4,93 m; dan dalam 2,10 m tersebut memiliki tonase 41 GT. Mesin yang digunakan terdiri dari 3 mesin, yakni mesin induk menggunakan Yucai Marine 170 – 200 HP, mesin genset menggunakan Dong Feng 24 PK, dan mesin genset Mitsubishi TS 100 HP. Mekanisme penarikan jaring purse seine terintegrasi dengan mesin induk melalui mekanisme gardan. Oleh karena itu, kegiatan penangkapan ikan lepas pantai termasuk kegiatan usaha padat karya, karena menyerap tenaga kerja antara 25 – 30 nelayan.

Tidak dapat dipungkiri, perairan lepas pantai selatan DIY memang banyak ikannya terutama dari jenis pelagis kecil seperti tuna, tongkol, cakalang (TTC) ataupun salem/layang. Jenis ikan tersebut adalah komoditas utama perikanan Nasional baik untuk keperluan ekspor atau memenuhi kebutuhan dalam negeri. Nah, karakter ikan tersebut adalah hidupnya bergerombol sehingga cara penangkapannya menggunakan purse seine (jaring lingkar) yang memang terbukti efektif digunakan untuk menangkap golongan ikan pelagis. Selama ini kita mengenal berbagai jenis ikan laut tetapi belum sepenuhnya paham mengenai teknik-teknik ataupun tata-cara penangkapannya bukan? Oleh sebab itu pada artikel di bawah ini akan kita jelaskan pengalaman Kami dalam kegiatan penangkapan ikan lepas pantai menggunakan Kapal Inka Mina 646 berukuran > 30 GT.

Persiapan Fisik

Salah satu perbedaan yang mencolok operasional perahu motor tempel (PMT) dengan kapal perikanan > 30 GT adalah lama melaut dalam tiap tripnya. Operasional PMT termasuk dalam kategori one day fishing, berangkat melaut dilaksanakan pagi hari, sementara siang atau sore sudah mendarat. Selain itu, jangkauan serta jumlah kru juga tidak banyak, kontras dengan operasional Kapal Perikanan > 30 GT yang melakukan kegiatan penangkapan ikan selama 7 – 10 hari. Oleh karena itu, kondisi fisik yang prima perlu kita persiapkan agar selama kegiatan melaut kesehatan selalu terpelihara. Apabila fisik tidka sehat, kamis sarankan menunda keberangkatan terlebih dahulu karena kegiatan melaut sangat akrab dengan aktivitas yang meguras energi, seperti kegiatan menarik jaring secara bersama-sama (jumlah kru 25 – 30 orang), manarik tali (purse line) jaring, kegiatan sortasi jenis dan ukuran ikan, persiapan es untuk mengawetkan ikan, hingga kegiatan memancing disela menunggu pengangkatan jaring.

Mengatasi Mabuk Laut

Hal terberat dalam kegiatan melaut adalah melawan rasa mabuk laut. Mabuk laut lumrah terjadi yang disebabkan sebagai bentuk respon tubuh terhadap lingkungan baru. Mungkin bagi yang belum terbiasa terombang-ambing gelombang, melewati fase mabuk laut adalah hal yang paling susah. Kepala pusing, pandangan berputar-putar, seluruh persendian lemas, nafsu makan turun, dehidrasi, serta keinginan segera pulang adalah rasa yang harus dilawan, sebab sebelum dapat hasil kapal pantang pulang.

Untuk antisipasi lebih lanjut, mabuk laut harus selalu dilawan yakni dengan cara selalu memberikan asupan nutrisi bagi tubuh. Hal jamak terjadi adalah ketika mabuk laut diperparah dengan keengganan untuk makan atau minum. Dalam keadaan mabuk berat, makan dan minum wajib hukumnya. Apapun makanannya jangan sampai lambung kosong serta harus terisi. Kalau sehari tidak makan/minum tentunya tidak masalah, tetapi kadang kala bisa sampai 3 hari. Hal ini jelas berbahaya serta berpotensi menimbulkan sakit lebih parah.

Menghadapi Badai

Menurut kami, lautan lepas di selatan DIY masih menyimpan misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Pada saat terkena badai, kapal terguncang hebat, terombang-ambing ke sana-ke mari, suasana mencekam, kilat menyambar di mana-mana, untuk sekedar beristirahat (tidur) pun harus berpegangan. Seketika itu juga optimisme mulai meluntur. Keadaan pasrah-sepasrah-pasrahnya mengingat otomatis jaring purse seine tidak dapat ditebar. Arus yang kencang berpotensi menghanyutkan jaring yang harganya mencapai Rp 250 juta – 400 juta tersebut sehingga sangat beresiko apabila kegiatan penangkapan ikan tetap dipaksakan. Salah satu langkah yang bisa dijalankan adalah bertahan sambil terus mencari informasi melalui radio SSB tentang perkembangan badai.

Nah, artikel pengalaman melaut selama 7 hari di pantai selatan ini terdiri dari 3 bagian. Bagian ke-2 akan kami publikasikan Jumat minggu depan. Terima kasih atas perhatiannya dan Jalesveva Jayamahe! (Jaya di darat dan Laut). Aamiin (rozi)