Berita

Pelatihan Petani Kakao di Dlingo

Selasa Wage, 18 Agustus 2015 08:03 WIB 3494

foto

Pengembangan kakao di Kabupaten Bantul memiliki beberapa alasan diantaranya komoditas kakao sesuai dengan persyaratan teknis wilayah Kabupaten Bantul yang berpotensi untuk dikembangkan kakao, selain itu kakao mampu meningkatkan optimalisasi pemanfaatan dan produktivitas lahan pekarangan, kakao relatif cepat berproduksi (umur 2-3 tahun), berbuah sepanjang tahun, proses pengolahan produksi relatif mudah dilaksanakan petani, prospek pasar cukup menjanjikan dengan harga jual yang cukup stabil.

 

Dalam upaya pengembangan agribisnis kakao di Kabupaten Bantul, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul yang dimotori Seksi Perkebunan dari Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dipertahut melaksanakan pelatihan petani kakao sebanyak dua angkatan awal Agustus yang lalu. Kegiatan ini dilaksanakan di dua kelompok meliputi KT Sumber Mulyo, Ngenep, Terong, Dlingo tanggal 5 – 7 Agustus serta KT Mulyosari, Sendangsari, Terong, Dlingo tanggal 10 – 12 Agustus dengan peserta masing-masing 30 orang.

 

Materi yang diberikan selama praktek antara lain sertifikasi benih/bibit kakao oleh BSPMBPTKP DIY, GAP kakao dan prospek pengembangan kakao oleh Ir. Siti Tamarah, MP dari Universitas Mercu Buana, pembibitan dan pemeliharaan kakao, pengenalan dan pengendalian OPT tanaman kakao, teknik perbanyakan kakao yang diberikan selain teori juga praktek langsung di lapangan. Dalam rangkaian pelatihan ini juga dilaksanakan pemberian benih kakao kepada petani sejumlah 25.000 biji kakao yang diperoleh dari Pusat Penelitian Kopi Kakao Jember. Selain itu juga diberikan alat perlengkapan berupa gunting pangkas, cangkul, sabit, polibag dan pupuk organik guna mendukung pengembangan budidaya kakao di Kecamatan Dlingo.

 

Dalam rencana pengembangan potensi komoditas unggulan kakao di Kabupaten Bantul tahun pertama ini akan dikembangkan 20 Ha di Kecamatan Dlingo dengan total pengembangan di tahun 2019 mendatang direncanakan seluas 165 Ha tersebar di Kecamatan Dlingo, Imogiri, Pleret dan Pundong. (deSh)