Berita

Bantul Kembangkan Bambu Seluas 20 Ha

Rabu Pahing, 19 November 2014 12:42 WIB 4328

foto

Bambu sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) sangat potensial untuk mensubstitusi kayu bagi industri berbasis bahan baku kayu. Pengurangan kayu sebagai sumber bahan baku untuk industri berbasis bahan baku kayu dapat meningkatkan kualitas kayu dan lingkungan hutan. Selain berpotensi sebagai bahan substitusi kayu, penggunaan bambu tergolong ramah lingkungan karena ditanam sekali, dipanen berkali-kali tanpa harus menghilangkan seluruh tegakan rumpunnya. Sumber bahan baku bambu untuk industri berbasis bahan baku bambu tidak dapat mengandalkan dari bambu rakyat dan bambu dari hutan alam. Oleh karena itu harus dilakukan budidaya untuk menghasilkan batang-batang bambu berkualitas (seumur) dengan produksi yang lestari.

 

Selasa (18/11) yang lalu dilaksanakan sosialisasi pengembangan tanaman bambu di kelompok Sido Makmur, Tangkil, Muntuk, Dlingo. Kelompok ini menerima kegiatan yang bersumber dari anggaran APBN senilai Rp 53.180.000,-. Jenis bambu yang dikembangkan adalah bambu apus untuk lahan seluas 10 Ha. Kegiatan penanaman akan dilaksanakan secara swakelola oleh kelompok dengan bantuan insentif tenaga kerja. Minggu keempat bulan ini direncanakan bibit sudah diterima sehingga proses penanaman dapat dilaksanakan oleh kelompok

 

Selain dari APBN, pengembangan budidaya bambu di Kabupaten Bantul juga didukung dari dana DAK bidang kehutanan dengan anggaran senilai Rp 52.850.000,-. Untuk pengembangan bambu dari dana DAK bidang kehutanan ini akan diterima oleh dua kelompok yaitu kelompok Ngudi Mulyo, Banyakan II, Sitimulyo, Piyungan dan kelompok Rukun Makaryo, Gampeng, Triwidadi, Pajangan dengan luas pengembangan masing-masing 5 ha. Jenis bambu yang dikembangkan adalah bambu wulung dan bambu apus.

 

Pengembangan bambu di Bantul ini diharapkan akan dapat mengembangkan industri non kayu seperti kerajinan dalam hal penyediaan bahan bakunya. Karena bambu cukup ditanam sekali saja dan akan dapat di panen sampai dengan 50 tahun. Sedangkan kayu umumnya setelah di panen kita perlu menanam lagi dan tentu membutuhkan biaya dan waktu yang lebih lama lagi. Selain dapat tumbuh lebih cepat, bambu juga menyerap air lebih tinggi serta dapat mencegah erosi. Maka dari itu selain lebih menguntungkan secara ekonomi, bambu juga lebih menguntungkan dari segi ekologi. Keuntungan lain yang sangat penting adalah selain memproduksi biomass yang sangat tinggi, bambu juga sangat efisien sebagai penghasil pulp. Bambu mampu menghasilkan pulp 7 kali lebih banyak dibandingkan dengan kayu untuk setiap hektarnya. (desH-dari berbagai sumber)