Berita

Penyakit Rabies

Jumat Legi, 6 Juni 2014 10:17 WIB 2957

Rabies merupakan penyakit yang dapat menular kepada manusia melalui gigitan hewan pembawa rabies (HPR) seperti anjing, kucing dan kera. Penyakit ini merupakan penyakit zoonosis yang akut dan menyerang susunan saraf pusat. Gejala hewan dengan penyakit rabies meliputi : 1. Gejala syarafi 2. Agresif 3. Photophobia (takut sinar) 4. hydrophobia (takut air) 5. Selalu diakhiri dengan kematian Biasanya hewan yang mengidap rabies cenderung menyerang siapa saja yang mengganggu atau didekatnya, terutama benda yang bergerak. Penyebab Penyakit Rabies Penyebab penyakit rabies yaitu virus kelompok RNA Virus / Rabdovirus genus lyssa dan virus kebanyakan terdapat pada jaringan syaraf, kelenjar ludah, pancreas dan air liurnya. Penularan penyakit rabies secara alami menyebar melalui gigitan, dimana virus dalam air liur masuk melalui luka bekas gigitannya. Semua hewan berdarah panas sangat peka terhadap virus rabies. Virus dalam air liur masuk ke dalam tubuh lewat luka bekas gigitan, menuju otak, ke kelenjar ludah melalui syaraf centrifugal selanjutnya menuju pancreas. Cepat atau tidaknya virus menimbulkan gejala rabies tergantung pada dalam tidaknya luka gigitan, parah tidaknya gigitan, lokasi luka gigitan (makin dekat otak makin parah), jumlah luka gigitan, jumlah dan keganasan virus yang masuk melalui gigitan. Gejala penyakit rabies 1. Stadium I (pertama, awal)/Fase Prodromal/Melankolik/ 2 – 3 hari) Pada stadium ini HPR terlihat berubah sifat dan kebiasaannya, menjadi penakut, pendiam, gelisah, sering menyendiri, bersifat dingin, agresif. Kadang-kadang terlihat malas, nafsu makan berkurang, temperatur tubuh agak naik, sering bersembunyi ditempat gelap dan teduh, tidak menurut perintah. Kadangkala terlihat geram (gigi gemeretak seperti mau menggigit sesuatu didepannya, bertingkah mau menangkap sesuatu, berlari kian kemari bila terkejut berusaha akan menggigit. 2. Stadium II (Fase Eksitasi/ 3 – 7 hari) HPR menjadi lebih agresif, takut sinar dan air, senang bersembunyi dibawah kolong, senang memakan benda-benda asing (misal : besi, kayu, bata, jerami dll). Bila dirantai akan berusah berontak menggigit rantai, menggonggong dengan suara lebih parau seperti lolongan serigala, karena terjadi kelumpuhan ototnya menjadi sulit menelan. Bila HPR lepas akan melarikan diri dan berjalan terus sepanjang hari dan bial diganggu akan menyerang apa saja, berakhir dengan kelelahan dan sempoyongan. Kejang-kejang, telingan dan ekor menjadi lebih kaku dan ekornya menjulur kebawah selangkangan. 3. Stadium III (Fase Paralisis) Kelumpuhan melanjut pada otot bagian kepala, sehingga mulut sulit menutup, lidah terjulur terus, sehingga air liurnya selalu menetes, menggantung dan berbusa, mata menjadi agak juling atau melotot. Kelumpuhan melanjut pada otot-otot tubuh sehingga terlihat sempoyongan, kejang-kejang, melanjut kelumpuhan pada kaki, kemudian koma dan antara 2–4 hari kemudian mati, karena kelumpuhan pada otot pernafasannya. Pencegahan penyakit rabies 1. Vaksinasi Rabies satu tahun sekali 2. Pemeliharaan anjing sebaik mungkin, pengamatan sifat kebiasaan sehari-hari, bila terlihat perubahan secara mendadak pada sifat-sifatnya segera periksakan/hubungi dokter hewan/puskeswan atau Dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan terdekat. 3. Anjing tidak dibiarkan berkeliaran diluar rumah tanpa dapat dikendalikan. 4. Anjing yang tersangka dicurigai atau agak berubah perangainya, sebaiknya diisolir dan jangan dicampur dengan anjing lain. 5. Karena ganas dan berbahayanya penyakit rabies, maka pencegahan dan pemberantasannya harus dilakukan secara intensif dan sedini mungkin. Pengobatan Pengobatan untuk penyakit Rabies tidak ada, dan bila anjing dicurigai terserang penyakit ini agar segera menghubungi Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Bidang Kesehatan Hewan, Seksi Pengamatan, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan atau puskeswan terdekat untuk dimusnahkan. Pertolongan pertama pada gigitan anjing a. Cuci denga segera luka gigitan dengan sabun atau detergen, kemudian dibilas dengan air bersih yang mengalir, kemudian cuci dengan alkohol 70 %, setelah kering diolesi dengan Yodium tincture. b. Segera ke dokter, puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk pengobatan selanjutnya. Laporkan segera ke Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Bidang Kesehatan Hewan, Seksi Pengamatan, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan atau puskeswan terdekat tentang anjing yang menggigit (alamat dan pemiliknya). c. Bagi pemilik agar segera mengisolir anjing/kucing/kera (dirantai atau dikandangkan tersendiri), segera periksakan anjing tersebut pada dokter hewan/puskeswan/dinas fungsi keswan terdekat dengan menyiapkan kartu atau buku vaksinasi rabies (bila telah divaksin). Apabila anjing yang menggita mati mendadak dalam waktu kurang dari 14 hari sesudah menggigit, bangkainya harus segera diserahkan pada Dinas fungsi peternakan dan kesehatan hewan untuk dilakukan uji guna memastikan HPR tersebut positif rabies atau tidak.