Berita

Dipertahut Studi Banding Pelajari Burung Hantu Pembasmi Tikus di Demak

Kamis Pon, 28 Februari 2013 11:16 WIB 3275

Populasi tikus bisa berkembang dari sepasang mencapai 2048 ekor dalam setahun. Hama ini lebih senang menyerang pada malam hari pada setiap stadium tamanan. Hal ini menjadi sebuah ancaman bagi petani. Pengendalian hama tikus dengan burung hantu Tyto Alba sebagai predator alami tikus menjadi salah satu alternatif pengendalian hama tikus. Burung hantu Tyto Alba memangsa sekitar 3 ekor tikus per hari. Pada umur 5 bulan burung hantu sudah mulai bereproduksi sehingga perkembangan kawanan Tyto Alba disuatu wilayah mampu memangsa hampir 7.200 ekor tikus. Senin (25/02) yang lalu jajaran Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan bersama kelompok Puspita Hati (Pusat Informasi dan Pengembangan Agensia Hayati) Kabupaten Bantul melaksanakan studi banding ke Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak dalam rangka mempelajari pengendalian tikus dengan burung hantu Tyto Alba yang sukses dikembangkan di sana. Menurut Kepala Seksi Perlindungan Tanaman, Bidang Tanaman Pangan Dipertahut, Ir. Sri Supatmi, MMA rencana pengembangan di Kabupaten Bantul sendiri dikhususkan pada kecamatan yang menderita kerugian paling parah akibat serangan tikus seperti kecamatan Sedayu. Di Yogyakarta sendiri tepatnya di desa Sumber Agung Moyudan Sleman awal Januari yang lalu telah diresmikan Karantina Pengembangan Agensia Hayati Tyto Alba, sehingga apabila di Kabupaten Bantul dikembangkan untuk waktu mendatang akan mampu memperkokoh pengendalian hama tikus lintas kabupaten. Kunjungan yang terdiri dari kurang lebih 55 orang tersebut disambut tim dari Desa Tlogoweru yang memberikan informasi seperti pengenalan jenis-jenis burung hantu, pengembangan burung hantu mulai dari pemeliharan, pengembangbiakan, perawatan dan karantina, serta analisa penangkaran burung hantu Tyto Alba. Dalam analisa penangkaran burung hantu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melalui investigasi ada tidaknya keberadaan Tyto Alba di kawasan dimaksud. Setelah diketahui ada habitat Tyto Alba kemudian dibuat rumah burung hantu atau Rubuhan di arel persawahan yang berada dekat dengan habitat burung hantu. Dan yang terakhir adalah karantina burung hantu. Burung hantu yang dikarantina dimaksudkan untuk melatih berkembang biak di rumah burung hantu (rubuhan), kemudian dilepaskan ke alam dan diharapkan dapat masuk ke rubuhan yang telah dibangun petani di tengah sawah masing-masing sehingga dapat berkembang biak dan terus berkembang, sehingga hama tikus dapat dikendalikan. Pengendalian hama tikus dengan burung hantu Tyto Alba di Desa Tlogoweru juga didukung Peraturan Desa yang mengatur perlindungan burung hantu Tyto Alba dari penangkapan dan perburuan. (deSh)